Selasa, 05 April 2016

Kompromi Sedarah, Kantor Kuli Saudara

"Selamat siang para binatang, ijinkan saya untuk meng-absen nama anda satu demi satu. Untuk yang saya senangi akan saya ulang berkali-kali dengan intonasi lebih tinggi dan ekspresif".

Jika dibuatkan majas eufimisme akan jadi seperti diataslah ekspresi seorang paman yang hati nya mendidih dan mulutnya seperti bibir teko yang berdesing. Menggambar jelas suasana hati yang gejolaknya seperti air mendidih di dalam panci yang tekanan uapnya sudah mengangkat-angkat tutupnya hinnga bunci terhentak-hentak menyadarkan tuan rumah. Sedanga apa dia? dia tengah tertidur lelap tadinya.


Siapa itu Paman? dan siapa pulan itu Tuan Rumah? padahal mereka bersaudara tapi keduanya seperti gunung berapi yang selalu bererupsi bersamaan ataupun saling bergantian. lalu siapa yang menjadi korban? atau yang selalu merasa terdzalimi. Satu gunung kian meninggi dan puncaknya mengeras, mendingin lalu membeku. Gunung lainnya kian merendah karena teriakan lava yang terlalu sering ia semburkan membuat tanah menariknya kebawah memendek dan memendek. Mungkin karena bergumam dengan magma yang bergelora pun sudah bukan pilihan nyaman. Semakin senjang kalian berdua, semakin sukar untuk menjadi lingkungan nyaman bagi manusia yang hidup di lereng dan lembah sekitar. Kami menjauh dan mulai berwaspada bersiaga.

Dalam hidup ini banyak problema, bisa ujian bisa pula hukuman. Saudaramu lebih kaya, memang ada andilmu tapi itu bukan hak dan tanggunganmu. Di akhirat nanti kamu tidak akan ditanya Tuhan tentang kekayaannya, karena itu memang bukan tanggungan yang Tuhan letakan di pundakmu. Memang dia jadi sombong dan angkuh, terkadang keterlaluan sikap dan ucapnya. Namun ikhlaslah karena itu pun tidak menjadi tanggunganmu. Kalian hanya sedarah, pribadi kalian berbeda dalam baik dan buruknya. Utamakanlah keluarga dan saudara keseharianmu, saya ini berbaik sangka dan apa adanya maka janganlah berprasangka yang tidak-tidak.

Yang dewasa dan apalagi diijinkan Tuhan untuk kaya seharusnya bisa menjaga rasa. Anda ini berlebih dalam berbagai hal namun tuntutan  anda sering tidak masuk akal. Namun nyatanya hanya mampu bersimpulan negatif terhadap yang muda yang mungkinkah tak pantas dihargai dan didengarkan? Kamu ini pemimpin bukan seorang penjagal, tugasmu memimpin dan berada di garis terdepan dalam peperangan. Wajahmu menjurus ke arah muka, badanmu adalah pelindung bagi mereka yang tertutup pundakmu. Maka janganlah kau arahkah pedang ke arah belakang. Memang benar beberapa orangmu mungkin terlalu manja jika kamu gunakan pecutan cambuk yang kau gunakan untuk meluruskan ketakutan. Namun berupayalah yang lebih baik dan murni, bersikaplah tegas sekuat panglima, namun lembutlah seperti sikap bijak seorang ayahanda.

Sering kali emosi mereka sudah tak masuk akal dan tak bisa aku terima dalam standard kesopanan seorang keponakan. Tingkat kedewasaan anda-anda ini yang terlampau tinggi ataukah saya yang sudah tidak kerasan? Kita ini dalam dilema, kita ini bertumbukan setiap hari dengan asas profesionalisme dan kekeluargaan. Harusnya seperti apa? kekeluargaan yang tanggung kah atau profesionalisme yang teracuni, mau pilih yang mana untuk dimurnikan dan ditinggikan?

Suatu hari akan anda sadari anda ini bersaudara tapi ikatannya tidak ada. Status yang hanya menempel diingatan saja apakah cukup untuk memuliakan? Maka yang sabarlah dengan yang muda, arahkanlah ia, bimbing dan beri kepercayaan dengan fasilitasnya, beri kesempatan. Dan bagi yang muda maka hormatlah tanpa syarat, setialah tanpa tendensi, fokuslah pada hubungan anda berdua tanpa membandingkan sikapnya kepada yang lain karena ini akan menyiksa anda. Mendewasa dan teladankanlah kami yang kecil-kecil ini sikap berwibawa dan pantas dihormati, sikap tenang dan bisa mengendalikan diri. Sikap yang menjadi contoh kami yang akan mengormati anda lebih tinggi lagi.

Catatan seorang yang terhimpit keruwetan.
Keselamatan bagimu saudaraku,
Muhammad Irsan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan menyertakan komentar anda, dan jangan lupa follow agar lebih mudah terhubung, Thanks a lot.