"Selamat siang para binatang, ijinkan saya untuk meng-absen nama anda satu demi satu. Untuk yang saya senangi akan saya ulang berkali-kali dengan intonasi lebih tinggi dan ekspresif".
Jika dibuatkan majas eufimisme akan jadi seperti diataslah ekspresi seorang paman yang hati nya mendidih dan mulutnya seperti bibir teko yang berdesing. Menggambar jelas suasana hati yang gejolaknya seperti air mendidih di dalam panci yang tekanan uapnya sudah mengangkat-angkat tutupnya hinnga bunci terhentak-hentak menyadarkan tuan rumah. Sedanga apa dia? dia tengah tertidur lelap tadinya.
Siapa itu Paman? dan siapa pulan itu Tuan Rumah? padahal mereka bersaudara tapi keduanya seperti gunung berapi yang selalu bererupsi bersamaan ataupun saling bergantian. lalu siapa yang menjadi korban? atau yang selalu merasa terdzalimi. Satu gunung kian meninggi dan puncaknya mengeras, mendingin lalu membeku. Gunung lainnya kian merendah karena teriakan lava yang terlalu sering ia semburkan membuat tanah menariknya kebawah memendek dan memendek. Mungkin karena bergumam dengan magma yang bergelora pun sudah bukan pilihan nyaman. Semakin senjang kalian berdua, semakin sukar untuk menjadi lingkungan nyaman bagi manusia yang hidup di lereng dan lembah sekitar. Kami menjauh dan mulai berwaspada bersiaga.
Dalam hidup ini banyak problema, bisa ujian bisa pula hukuman. Saudaramu lebih kaya, memang ada andilmu tapi itu bukan hak dan tanggunganmu. Di akhirat nanti kamu tidak akan ditanya Tuhan tentang kekayaannya, karena itu memang bukan tanggungan yang Tuhan letakan di pundakmu. Memang dia jadi sombong dan angkuh, terkadang keterlaluan sikap dan ucapnya. Namun ikhlaslah karena itu pun tidak menjadi tanggunganmu. Kalian hanya sedarah, pribadi kalian berbeda dalam baik dan buruknya. Utamakanlah keluarga dan saudara keseharianmu, saya ini berbaik sangka dan apa adanya maka janganlah berprasangka yang tidak-tidak.
Yang dewasa dan apalagi diijinkan Tuhan untuk kaya seharusnya bisa menjaga rasa. Anda ini berlebih dalam berbagai hal namun tuntutan anda sering tidak masuk akal. Namun nyatanya hanya mampu bersimpulan negatif terhadap yang muda yang mungkinkah tak pantas dihargai dan didengarkan? Kamu ini pemimpin bukan seorang penjagal, tugasmu memimpin dan berada di garis terdepan dalam peperangan. Wajahmu menjurus ke arah muka, badanmu adalah pelindung bagi mereka yang tertutup pundakmu. Maka janganlah kau arahkah pedang ke arah belakang. Memang benar beberapa orangmu mungkin terlalu manja jika kamu gunakan pecutan cambuk yang kau gunakan untuk meluruskan ketakutan. Namun berupayalah yang lebih baik dan murni, bersikaplah tegas sekuat panglima, namun lembutlah seperti sikap bijak seorang ayahanda.
Sering kali emosi mereka sudah tak masuk akal dan tak bisa aku terima dalam standard kesopanan seorang keponakan. Tingkat kedewasaan anda-anda ini yang terlampau tinggi ataukah saya yang sudah tidak kerasan? Kita ini dalam dilema, kita ini bertumbukan setiap hari dengan asas profesionalisme dan kekeluargaan. Harusnya seperti apa? kekeluargaan yang tanggung kah atau profesionalisme yang teracuni, mau pilih yang mana untuk dimurnikan dan ditinggikan?
Suatu hari akan anda sadari anda ini bersaudara tapi ikatannya tidak ada. Status yang hanya menempel diingatan saja apakah cukup untuk memuliakan? Maka yang sabarlah dengan yang muda, arahkanlah ia, bimbing dan beri kepercayaan dengan fasilitasnya, beri kesempatan. Dan bagi yang muda maka hormatlah tanpa syarat, setialah tanpa tendensi, fokuslah pada hubungan anda berdua tanpa membandingkan sikapnya kepada yang lain karena ini akan menyiksa anda. Mendewasa dan teladankanlah kami yang kecil-kecil ini sikap berwibawa dan pantas dihormati, sikap tenang dan bisa mengendalikan diri. Sikap yang menjadi contoh kami yang akan mengormati anda lebih tinggi lagi.
Catatan seorang yang terhimpit keruwetan.
Keselamatan bagimu saudaraku,
Muhammad Irsan
Selasa, 05 April 2016
Jumat, 16 Januari 2015
Mengapa Kita Diciptakan
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
"Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkah-Nya juga kepadamu"
Sudah lama saya tidak berbagi persepsi melalui blog, ada keinginan yang telah lama belum bisa saya wujudkan. Ingin posting secara rutin, tidak timbul tenggelam dan tidak mencla-mencle. Ingin rasanya lebih baik dalam blogging, berbagi ilmu dan persepsi subjektif yang saya harap bisa bermanfaat dan persuasif dalam hal yang positif. Kesempatan yang dari dulu selalu datang dan ada di dekapan, namun lagi dan lagi hanya saya manfaatkan untuk seting ini dan itu dalam sisi tampilannya saja. Semoga kali ini lebih baik secara esensi.
Semakin bertambah umur bertambah pula pengetahuan yang kita peroleh dari kehidupan yang dianugerahkan kepada kita. Berbagai persepsi dan konklusi berseliweran di akal fikiran kita. Satu ilmu datang dan berdiam, lalu datang yang lainnya dan berbagi tempat. Kemudian hari ketika sudah tidak nyaman mereka pergi atau kita yang mengusirnya. Beberapa dari ilmu itu hanya mampir untuk memberi kita kegembiraan sekejap lalu hilang entah kemana dimakan lupa. Ada pula yang menetap, beradaptasi dan menjalar hingga mampu mempengaruhi cara pandang dan kepribadian.
Setiap tahun yang kita lewati memberikan satu paket informasi yang senantiasa berujung sebuah kesimpulan kasar "Apa saja yang aku capai tahun lalu?". Sebelum kita merapikannya menjadi kesimpulan yang rapi, maka dengan kurangnya rasa sabar kita tentukan Resolusi baru untuk setahun kedepan. Ini dan itu yang agaknya condong terhadap keduniaan kita rinci satu demi satu (jangan ada yang lupa tercatat). Resolusi tahunan yang kita tetapkan tersebut adalah bentuk dari rangkaian tujuan-tujuan kecil hingga besar dalam hidup. Yang menjadi tolak ukur akan sebuah keberhasilan yang sebenarnya kita rancang sendiri seindah apa tujuannya, hanya referensinya yang kita dapat dari ilmu pengetahuan dan lingkungan. Namun apakah hanya untuk mencapai resolusi tahunan itukah kita hidup?.
Sebagai seorang muslim, sudah sering rasanya mendapatkan ceramah dan wejangan dari orang tua, ustad, khotib shalat jum'at, sahabat hingga dari literatur yang saya baca tentang bagaimana kita diciptakan dan tujuan apa yang Allah SWT mandatkan kepada kita sebagai makhluk-Nya. Ya, tujuan kita diciptakan untuk menjadi Khalifah (pemimpin) dimuka bumi. untuk menjadi pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin. Sesuai dengan apa yang kita baca pada Al-Quran, QS Al-Baqarah, ayat 30 sbb:
ۖوَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ
خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ
الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي
أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menciptakan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Dari ayat diatas harus kita pahami bahwa para malaikat Allah memiliki kekhawatiran tentang kecenderungan yang dimiliki makhluk yang akan menjadi khalifah (berbuat kerusakan dan menumpahkan darah). Namun Allah SWT adalah yang maha mengetahui segala sesuatu yang diciptakannya. Hingga akhirnya adam diciptakan dan menjadi manusia pertama. Selanjutnya pada ayat 31 dan 32 dijelaskan bahwa Allah SWT mengajarkan seluruh benda-benda yang ada di sorga dan meminta kepada para malaikat untuk menyebutkan satu demi satu benda-benda itu. Namun para malaikat tidak mampu menyebutkan dan mengakui tiada yang mampu mereka ketahui selain dari apa yang diajarkan kepada mereka oleh-Nya, lalu mereka memuja akan Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Yang menjadi pertanyaan saya sewaktu SMK dulu adalah, bagaimana bisa malaikat mengkhawatirkan sesuatu yang belum Allah SWT ciptakan. Sementara mereka mengakui hanya mengetahui apa yang telah Allah SWT ajarkan. Beberapa keterangan yang saya dapat dari Guru agama dan diskusi dengan teman adalah, kemungkinan besar pernah tinggal di bumi kita ini makhluk yang seperti disebutkan para malaikat. Dengan kata lain apakah zaman dinosaurus memang ada yang makhluk-makhluk itu pernah mendiami bumi kita ini. Sesungguhnya Allah SWT mengetahui rahasia apa yang tersimpan di langit dan di bumi.
Kita patut bersyukur betapa besar kepercayaan yang dimandatkan oleh Allah SWT kepada kita makhluknya (manusia). Bisa berperan sebagai pemimpin yang memelihara dan menjaga kebaikan di bumi ini. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang tidak mungkin diciptakan oleh selain Allah SWT, mana bisa kita mengingkari dan tidak menggunakan otak ini untuk mencari jalan yang di-Ridhai oleh-Nya.
Kita diciptakan dengan segala kelengkapan yang tidak dimiliki makhluk lain. Dari berbagai aspek manusia ini sudah serba pas, kita memiliki bentuk tubuh paling pas dan sempurna untuk menjalani kehidupan, dibekali dengan akal fikiran agar kita bisa mempelajari ilmu-ilmu yang telah disediakan yang banyaknya tidak bisa kita hitung, dan tak kurang Allah mewarnai diri kita dengan hawa nafsu. Bayangkan jika kita kehilangan salah satu nya? misalnya aspek yang sering jadi kambing hitam saat kita melakukan kesalahan yaitu hawa nafsu. Apa sih hawa nafsu, bila kita resapi hawa nafsu ini adalah energi yang membuat kehidupan manusia jadi dramatis. Hawa nafsu lah yang melahirkan rasa sedih, bahagia, cinta, benci hingga tergila-gila. Jika saja hawa nafsu tidak kita miliki maka yang miskin ya miskin lah, yang kaya ya kaya lah (tidak akan ada roda kehidupan yang fair dan benar-benar berputar). Kita mungkin hanya bisa menerjemahkan lapar diotak kita lalu makan dan kenyang tanpa merasakan nikmatnya rasa yang Allah SWT izinkan lidak kita untuk menikmatinya. Jadi sangat perlu ya kita dengan hawa nafsu, maka mari kita bersyukur atas salah satu kelengkapan manusia yang bisa mendatangkan berbagai nikmat hidup yang tidak akan bisa kita absen satu demi satu.
Lalu dengan segala kepercayaan-Nya dan kesempurnaan yang kita miliki tentulah selalu muncul pertanyaan besar dalam diri kita "Mengapa Kita Diciptakan?". Perlu saya ingatkan kembali, para Malaikat sudah lebih dulu menanyakan ini kepada-Nya. Memang sudah sangat jelas yang menjadi tujuan penciptaan kita adalah menjadi seorang khalifah. Namun kembali lagi "Apakah alasan Allah SWT menciptakan manusia?"
(Berlanjut...Catatan manusia fana ini belum selesai")
Langganan:
Postingan (Atom)
